Rabu, 29 Mei 2013

(18-Resensi Buku 2013-Majalah Matan April 2013) Buku Autokritik Untuk Paham Mazhab Hanbali

Judul                            : Pilih Islam atau Mazhab?
Penulis                          : Hasan bin Farhan Al-Maliki
Penerbit                       : Noura Books
Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2013
Jumlah Halaman          : 368 halaman
ISBN                           :  978-602-7816-00-8
Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom UMM dan anggota  Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.
            Kemunduran peradaban dan kemunduran kekuatan umat Muslim saat ini tak bisa kita mengelaknya. Sangat jarang sekali di antara sebagai pemeluk Islam mencari permasalahan sekaligus solusi apa yang mesti kita lakukan demi mengembalikan kejayaan Islam seperti dulu. Dari yang jarang tersebut bisa kita temukan dari Hasan bin Farhan Al-Maliki. Seorang yang mengaku bermazhab Hanbali menulis buku yang berjudul asli Qira’ah fi kutub al-‘Aqa’id al-Madzhab al-Hanbali Namudzajan.
            Dalam terjemahannya buku ini berjudul, Pilih Islam atau Mazhab. Buku ini berpijak pada ayat yang berbunyi begini, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka itu menjadi (terpecah) berkelompok-kelompok, sedikit pun itu bukanlah tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Akan tetapi, urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Al-An’am (6): 159). Selain ayat ini ada dua ayat lain di QS Al-Nisa’ (4): 135  dan di QS Al-Ma’idah (5): 8 (halaman vii).
            Inti dari ayat itu kesemuanya adalah persatuan Islam dan memang apa yang diinginkan penulis bermazhab Hanbali adalah ukhuwah Islamiyah yang sudah sulit ditemukan. Karena seringkali kita temukan, sama-sama pemeluk Islam dan hanya berbeda mazhab saja sudah saling menghujat, saling membid’ahkan, bahkan saling mengkafirkan.
            Dalam buku ini penulis fokus pada satu mazhab untuk dikritik, lebih tepatnya autokritik. Yakni mazhab yang diakui diikutinya, Mazhab Hanbali yang menurutnya perlu kritikan yang membangun, karena Imam Ahmad sandaran Mazhab Hanbali tidaklah ma’shum. Bisa saja berbuat dan mengatakan kesalahan.
            Pada pendahuluan buku ini pembaca akan disuguhi dengan berbagai macam pemikiran yang menurut penulis harus diketahui umat. Salah satu permasalahan umat hingga pecah belah ini adalah masalah kerancuan istilah dan definisi. Termasuk di dalamnya adalah definisi akidah yang sebenarnya tak ada dalam Islam (Al-Qur’an dan Hadits). Sebenarnya, kata akidah itu cukup dengan kata iman, yang sejak zaman awal Islam telah dikenal tidak seperti aqidah yang baru ada di zaman ulama belakangan. Tersebab kitab akidah saling berseteru itulah maka mundurlah Islam, termasuk ketika jatuhnya Bagdad dan terjajahnya negeri Syam dan Palestina di tangan Kaum Salib (halaman 37).
            Pada dasarnya semua imam mazhab melarang pengikutnya bertaklid padanya, termasuk Imam Ahmad bin Hanbali ketika datang seseorang yang bertaklid padanya dan menyatakan pendapatnya berbeda dengan Ibn Al-Mubarak. Imam Ahmad berpesan padanya, “Sungguh, Ibn Al-Mubarak itu bukan orang yang turun dari langit, tetapi kita diperintahkan untuk menggali ilmu yang datang dari langit.” Imam Ahmad juga berkata, “Janganlah kalian mengikuti pendapatku, jangan pula mengikuti pendapat Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Al-Tsauri! Galilah dari sumber mana mereka mengambil ilmu.” (halaman 4)
            Bab kedua buku ini berusaha melacak asal-usul perselisihan akidah yang menyebabkan umat mundur. Pada intinya semuanya adalah pertikaian politik. Bisa kita lihat ketika zaman kekhalifahan Bani Umayah banyak ulama dekat dengan pemerintahan. Akibatnya, ulama menjadi alat untuk membubuhi sikap taklid dan membenci pada selain mazhabnya. Umayah yang sejak awal memang membenci Ali dan keluarganya, akhirnya meminta ulama untuk mengatakan syiah itu sesat. Padahal, tidak semua syi’ah ekstrem. Maka ketika kekhalifahan Syiah naik, keberadaan Bani Umayah terancam karena syi’ah balas dendam, tentunya itu syiah ekstrem.
            Pada bab terakhir yang paling panjang adalah kritik terhadap Akidah Mazhab Hanbali. Menurut penulis yang bermazhab Hanbali ini kitab Akidah Mazhab Hanbali tidak luput dari kesalahan. Termasuk pengafiran dan tuduhan bid’ah terhadap Imam Abu Hanifah. Namun, penulis masih meragukan hal itu dilontarkan oleh Imam Ahmad (halaman 205). Karena bisa jadi kitab As-Sunnah itu diubah ketika beliau wafat demi kepentingan politik Bani Umayah.
            Selain itu dalam kitab Akidah mazhab Hanbali juga terdapat pemalsuan hadis dan sikap tajsim dan tasybih. Ada sebuah riwayat dalam sebuah kitab As-Sunnah (1/293) yang berbunyi, “Ketika Allah Swt. berfirman kepada Musa a.s., Dia memakai jubah bulu domba, tutup kepala dari bulu domba, dan sandal dari kulit keledai yang masih kasar.” Padahal hadis ini tidak sesuai syariat dan hadis sahih lainnya juga merendahkan Zat Ilahiah (halaman 241). Selain itu masih banyak hadis palsu dan kejanggalan dalam kitab Akidah mazhab Hanbali. Namun, perlu diketahui pula hampir semua kitab akidah dari mazhab apapun memuat kejanggalan dan kesalahan.
            Sebagai autokritik, buku ini secara khusus memang sangat bagus dibaca oleh pengikut mazhab Hanbali dan secara umum untuk semua mazhab umat Islam agar memahami semua imam mazhab mereka bisa saja salah dan kita bisa rendah hati menerima kebenaran dari mazhab lain serta menghindari sikap taklid dan meninggalkan perdebatan furu’. Semua itu bertujuan untuk bersatunya Islam dan menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan.

            Maka benar endorsement buku ini yang ditulis oleh Abdul Mu’ti (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah), “Buku ini memberikan perspektif yang luas mengenai akar-akar perbedaan pendapat dan mazhab di dalam Islam. Mengajak pembaca untuk menyikapi perbedaan mazhab secara arif, lapang dada, dan dewasa serta lebih mengutamakan Islam di atas fanatisme mazhab dan primordialisme golongan.”

*naskah sebelum diedit oleh redaksi

halaman dimuat di  Majalah Matan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar